Langsung ke konten utama

Postingan

Pahlawan

Biarlah kamu menjadi hero di mata orang lain. Seseorang tangguh yang tiada cacat berkekurangan. Namun tetap lah menjadi pahlawan di hadapanku. Pahlawan dengan sakitnya, dengan air mata, dengan pengakuan kelemahan. Karena sejatinya tiada yang sempurna. Sesakit apa, sesulit apa, sehebat apa, ia tetaplah pahlawan yang disyukuri keberadaannya. Biarlah sakit dan susah itu ada, hanya di hadapanku. 

Syukur

Untuk orang-orang yang menghadiahi pagi dengan kasak-kusuk persiapan, berdandan, lupa sarapan, berlarian mengejar kendaraan. Apakah yang lebih menyebalkan daripada macetnya jalanan? Untuk orang-orang yang bertemu malam dengan badan keletihan, setumpuk pekerjaan yang tersisakan dengan pikiran besok tetap tak ada harapan. Adakah yang lebih membosankan daripada pertarungan jalanan? Ya. Semua mampu terurai dalam keluh kesah. Semua membayang nyata dalam gurat wajah. LELAH. Aku merasakannya. Aku ada di antara mereka. Menikmati drama kehidupan dari perjalanan dan silih berganti kendaraan. Membosankan memang. Namun, adakah yang bosan ketika ia sadar, bahwa ribuan orang diluar sana menginginkan aktivitas paginya. Bekerja. Bersosialisasi. Melakukan sesuatu. Adakah yang bosan ketika ia menikmati senja di perjalanan, mensyukuri rahmat Tuhannya, kadang ditemani rinai hujan, bahwa ia bisa pulang, bertemu yang dicinta, bersapa bersama keluarga. Syukur adalah nikmat atas pengusahaan rezeki. ...

Pertemuan

Apa arti pertemuan bagimu? Apakah bertemunya mata dengan mata? Atau mengalirnya cerita tentang perjalanan panjang kemarin? Bagiku, pertemuan lebih dari itu. Pertemuan adalah perekat, hati yang mungkin pernah kecewa. Ia adalah pemanis untuk senyum yang sempat pudar. Juga mendekatkan rasa yang renggang karena kebisingan. Setelahnya, pertemuan memberiku kekuatan untuk kembali pada kenyataan, bahwa pertemuan dengan mu begitu berharga, bahwa ia hanya terjadi seketika, hitungan dua atau tiga. Pada akhirnya, pertemuan adalah takdir. Kita rencanakan, namun Allah yang tentukan. Bila pertemuan adalah ketentuan, masihkah kau setia disana menunggunya? 

Pengulangan

Aku menginginkan senja itu berulang. Diterpa sepoi angin dan sentuhan butir gerimis kecil. Sejuknya merambat pori, membawa dingin hingga ke hati. Aku menginginkan detak waktu itu berulang. Di antara percakapan sederhana dan tingkah tawa yang menggantung di udara. Membuhul seutas senyum, menghantarkannya ke memori.  Aku menginginkan perjalanan itu berulang. Lantas tersadar, tak pernah ada pengulangan yang sama. Juga rasa. 

Kekhawatiran

Kekhawatiran adalah sebentuk rasa, yang entah bagaimana mampu mengubah sekulum senyum menjadi kecut cemberut. Ia adalah penampakan paling sederhana dalam kepedulian. Yang sering kali dengannya terlahir ekspresi anomali. Gerak aktif mondar-mandir berpikir, tidur gulang-guling tanda gelisah, bahkan derai air mata ketika kekhawatiran itu menemukan jawaban- pun bila jawaban itu melegakan.  Rasa itu, murni, tak perlu di ada-ada karena ia bukan sesuatu yang pasti diharapkan. Rasa itu tak usah dipakai mencari muka, biarkan saja apa adanya.  Kekhawatiran, kemudian akan menentukan seberapa berharga, seberapa besar arti dia, seberapa peka kamu atasnya. Pada akhirnya, Kekhawatiran adalah sebuah rasa yang aku bangga memilikinya, tanda ada kamu disekian mili penglihatanku. Selalu.

Orang baik

Adalah anugerah yang patut, sangat patut disyukuri, bertemu dengan mereka yang luar biasa. Siapa? Mungkin bukan siapa-siapa bagi orang lain, tapi sangat berarti bagi hidupku. Mereka yang hadir menggambar, mewarnai dan membingkai rasaku dalam wujud cerita. Mereka yang entah bagaimana caranya Allah hadirkan mengisi rongga-rongga hampa yang tersisa dari keluh kesahku, airmata, dan kesedihan hingga semua berakhir tawa dan sebait cerita bahagia. Mereka hadir, tidak lantas menjadikanku orang baik, cerdas atau perasa. Namun, aku belajar itu semua dari mereka. Menjadi 'gila' untuk melupakan sedikit beban. Merasa dewasa untuk mencari hikmah dibalik kejadian, dengan sedikit nasehat tentunya. Untuk orang sesantai diriku, kehadirannya adalah cambuk yang mengingatkan untuk meng-upgrade diri, memenuhi hari dengan ilmu, mengembangkan cita-cita, belajar disiplin dan banyak hal lain yang dulu begitu sulit aku lakukan. Lagi-lagi, bersama hujan yang hampir selalu hadir di kota ini, aku menem...

cerita KKP

Langkah pertama yang aku jejakkan di sebuah desa kecil nan asri ditepian danau Maninjau yang dikelilingi barisan bukit nan berjajar indah, harus bergeser setapak menuju Bogor. Kota hijau yang sederhana dan cukup sibuk diwaktu-waktu tertentu. Langkah itu sepertinya masih belum hendak berhenti, hingga hari ini ia kembali berpijak di tempat yang lain, Desa Depok, Tegal dengan keterus terangan masyarakatnya, juga pengajian yang setiap malam selalu menyapa. KKP IPB 2013 yang selanjutnya bergantinama menjadi KKBM.  Ada cerita yang kemudian hangat dikenang. Mulai dari pembagian kelompok yang tidak jelas dan berganti-ganti hingga hari keberangkatan yang riweuh. Menjelang keberangkatan, mahasiswa KKP sibuk belanja kebutuhan nanti di Desa, takut kalau desanya begitu terpencil dan jauh dari pasar. Semua barang-barang itu selanjutnya  di padat-padatkan masuk tas atau koper. Tidak sedikit yang akhirnya membawa 3-4 koper. Itu benar-benar membuat repot. Untuk daerah Tegal, perjalanan...

Nanti

Ada hal-hal yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata dalam bicara. Ada hal-hal yang terasa berat untuk diceritakan kepadanya. Menjadi rahasia, rahasia yang indah ketika disimpan dalam-dalam. Mungkin bukan sekarang masanya. Butuh jeda, agar hati tak lagi berhati-hati. Agar iya mendapat sayap kebebasan, mengangkat segala sungkan, membiarkan jatuh luruh segenap prasangka. Biar saja hujan turut membantu memulihkan. Mengobat hati yang mungkin dulu pernah terluka. Hanya meminta sedikit sabar, untuk menunggu, meski mungkin nanti terlambat, terlambat dalam waktu yang lama. Dalam waktu yang membuatmu jemu, hingga memilih untuk berhenti. Meninggalkan setiap rahasia, menggantinya dengan rasa dan cerita yang baru.

Kakak KKN

Hai. Saat ini di Bogor jam menunjukkan pukul 2.00 malam. Sudah larut bukan? Entahlah, untuk beberapa waktu ini, jam biologis saya sedikit terganggu. Ada satu hal yang cukup mengusik saya malam ini. Ceritanya, Fitri sedang menginap dikosan, dan kita tadi membahas cerita KKP. Mengenang kembali kisah perjalanan KKP saya dua tahun lalu, agaknya tidak terlepas dari pembelajaran yang saya ambil dan saya contoh dari seorang kakak yang pernah KKN di kampung saya tahun 2009 silam. Kakak itu seorang ikhwan, berjenggot tipis, dengan celana mengatung. Saya dulu tidak mengerti dengan penampilannya. Hingga saya memasuki dunia kampus dan menjumpai ratusan ikhwan dengan penampilan yang sama. J Waktu KKN itu, si kakak aktif sekali mengajarkan pelajaran agama pada kami--anak anak kampung. Dan sepertinya saya satu-satunya murid SMA yang ikut bergabung. Haha (tidak ingat umur). Salah satu yang saya ingat dari kakak nya adalah jaket yang beliau kenakan, disana ada tulisan FAPERTA. Dan ALLA...

Mereka-reka, Bermimpi

  Mereka-reka, itu yang seringkali kita lakukan untuk mencoba 'melihat' masa depan. Kita hubungkan tanda-tanda, asumsi-asumsi hingga terbentuklah sebuah gambaran, seperti apa hari esok. Bisa jadi benar, seringkali keliru.  Terkadang berfikir, pekerjaan mereka-reka itu sia-sia. Melelahkan. Bukankah untuk merangkai cerita itu butuh tenaga, ia mengambil waktu, mencuri perhatian? Apa yang kita berikan untuk usaha 'mereka-reka' itu mungkin lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu. Ah perbuatan sia-sia itu.. itulah yang seringkali aku lakukan. Mereka-reka aku katakan 'bermimpi'. Bermimpi, yang meski tak terwujud pun setidaknya aku sudah memperoleh kebahagiaan (meski semu) atas apa yang aku impikan. Tak peduli apakah akan menjadi kenyataan atau tidak. Toh ketika ia menjadi nyata, anggap saja dalam mimpi itu aku menyelipkan sebait doa, dan Allah mengabulkannya. Ajaib. Tring. Begitulah.. Terkadang bagiku, dalam bermimpi, dalam proses mereka-reka itu aku...

Kembali..

Beberapa saat yang lalu, aku tergoda oleh cerita teman yang mulai berpindah ke dunia Nyonya Tumbi. Kata mereka, disana lebih leluasa mengekspresikan banyak hal mulai dari yang sederhana hingga yang berkisah panjang. Akhirnya, aku memutuskan ikut mengunjunginya, dimulai dengan membuat identias baru untuk dunia yang baru. Ah, aawalnya sungguh mengesankan, ingin sekali berteriak, "...aaaa, aku sudah berada di dunia nyonya tumbi yang kalian ceritakaaan..." hahha..aku mulai mempelajari cara bertahan hidup di dunia itu. aku mulai mengenali beberapa tetangga dan menyuguhkan beberapa piring coocies dan segelas coklat hangat. Aku sungguh tertarik dengan dunia itu hingga terlupa, suguhanku telah habis.  Waktu berlalu, tapi aku masih tak punya cara menghadirkan suguhan itu. Tanganku seperti kelu, tidak tahu harus menulis apa. Fikirku pun membatu, berhenti pada kata, "Aku....." tidak ada satu hidangan pun yang bisa aku ramu. Entahlah, sepertinya ia menolak berjodoh dengan k...

MENJADI DIRIKU… (EdCoustic)

MENJADI DIRIKU… (EdCoustic) Tak seperti bintang di langit Tak seperti indah pelangi Kar’na diriku bukanlah mereka Ku apa adanya… Wajahku kan memang begini Sikapku jelas tak sempurna Kuakui ku bukanlah mereka Ku apa adanya… Menjadi diriku dengan segala kekurangan Menjadi diriku atas kelebihanku… Terimalah aku seperti apa adanya Aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna Tetap ku bangga atas apa yang kupunya Setiap waktu kunikmati, anugerah hidup yang kumiliki…

Memilih Berubah..

Perubahan adalah keniscayaan, begitulah orang bilang. Tiada yang tak berubah didunia ini, kecuali cinta kasih Allah pada hambanya. Disetiap denyut kehidupan, perubahan-perubahan adalah bagian-bagian tak terpisahkan. Semua berproses, kadang melaju dengan arus pergiliran-pergiliran. Perubahan hadir tidak saja dalam hitungan tahun, bulan, hari, ataupun jam, bisa jadi ia terjadi dalam hitungan menit bahkan detik. *** Cerita tentang perubahan itu saya dapatkan hari ini.  Satu tahun yang lalu, ketika saya Upgrading BEM Faperta Kabinet Beraksi di Yonif Garuda Gunung Batu, ada seorang pelatih yang bisa dibilang cukup usil. Sang pelatih sering mengolok-ngolok saya, menertawakan saya, membercandai saya. Hmm, apa karena saya kecil? Mungkin saja. Atau bisa jadi karena saya sok-sok-an. Entahlah. yang saya rasakan, saat itu saya cukup tengil untuk membantah dan melawan perintah sang Pelatih. Beberapa kali saya protes dan menegur. Sok berani, padahal aslinya ketar ketir.  Waktu itu...

Karena Saya Bahagia...

Menjadi kakak bagi saya adalah keniscayaan dan keberkahan yang diberikan oleh Allah. Terlahir sulung dari 5 orang bersaudara dengan jarak umur yang tidak begitu jauh telah membuat saya mendapat cap 'kakak' sejak kecil. Lucu ketika saya yang dulu masih kecil (sekarang juga masih) harus menuntun dan mengurusi adik-adik saya. Bermain bersama, mandi bersama, tidur bersama, jajan bersama dan sekolah bersama mengajarkan saya betapa peran seorang kakak itu penting. Saya dulu mungkin tidak terlalu mengerti pengaruh apa yang saya berikan terhadap adik-adik saya. Tapi sekarang, lihatlah :) Dalam tumbuh berkembangnya, sering kali adik-adik saya minta masukan, minta izin untuk keputusan yang akan mereka ambil. Pun mengenai hubungan, mereka tidak sungkan bercerita. Bahkan adik saya yang pertama sekarang sudah berpenampilan syar'i sesuai ajaran agama islam. Positifnya, saya bisa dengan mudah mengarahkan adik-adik saya dan saya juga bersedia memberikan kepercayaan yang besar untuk merek...

Pengen nge-share aja... :)

Prolog Festival Bunga dan Buah Nusantara 2014 Pertanianku kini jatuh, jatuh pada tangan-tangan pahlawan baru Dengan semangat berpuluh-puluh ribu tenaga meletakkan asa dalam genggaman sang surya Pertanianku kini tiada, tiada takut menantang gejolak dunia Tiada enggan membusungkan dada, memamerkan buah-bunga-nya Pertanianku kini terlempar. Terlempar jauh menggaungkan suara membangunkan naluri-naluri yang tersembunyi disini, dihati pemudi-pemuda tani. Pertanianku kini meminta bakti. Bukti dimana satu ikrar itu diagungkan. Hari terpanjatnya doa-doa kebesaran diatas kesadaran, bahwa perut tetap harus diisi, air akan terus mengalir revolusi orange ini akan bergulir membersamai satu cinta menciptakan asa kedigdayaan, Buah - Bunga Nusantara. …dan biarkan aku disini, bersuara jauh lebih lantang dari kulik elang yang perkasa. Bahwa, Pertanianku telah MERDEKA!! Karya: Atika Mayang Sari Mahasiswi Agronomi & Hortikultura IPB 2010

..bidadari..

Dulu aku hanya mendengar namanya saja. Nama yang sering kali dipuji orang. Dengan rasa penasaran, pernah sekali aku cari tahu tentangnya tapi hasilnya nihil, aku tetap saja tidak mendapatkan gambaran seperti apa dia sebenarnya. Beberapa tahun terlewati. Allah yang Maha Baik memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya, berkenalan, bahkan sempat tinggal bersama. Sewaktu pertama kali berkenalan, perasaanku biasa saja, begitu juga dengan penilaianku. Rasanya tidak ada yang istimewa darinya kecuali penampilan yang sederhana, gaya yang agak sedikit tomboy, dan senyum dari matanya yang khas sekali. Tapi tahukah? Apa yang orang katakan itu benar adanya. Dia adalah wanita yang istimewa. Keistimewaan yang membuatku berurai air mata ketika sadar akan berpisah kesibukan dengannya.  Bahkan hingga saat ini, aku bingung akan menuliskan apa untuk mengungkapkan banyak hal yang aku fikirkan, yang aku rasakan tentang dia. Sosok wanita mandiri yang kuat tapi lembut hatinya. Dia sedikit kera...

Langkah yang Baru..

  Aku tulis ini untuk mengingat, hingga nantinya sampai pada kata mengenang.. 20 Oktober 2013 dalam kepercayaan sang Abu Bakar. Satu langkah lagi. Langkah yang mungkin masih terlalu lemah, hingga aku sedikit terguncang. Kaki ini belum terlalu yakin untuk menapak. Tapi panggilan itu ternyata telah datang, dan aku harus bersegera. Banyak rasa, bahkan rasanya tidak akan terulang kedua kali. Kau tahu bagaimana rasanya ketika sebuah kesadaran menampar pipimu, bahwa hidup itu berputar dalam pergiliran-pergiliran, dan ini lah giliranku. Dengan pola isyarat, mereka berkata 'selamat datang dalam dunia orang dewasa'.. " Allah lah yang memberikan. Dia tentu tahu, seberapa kuat dirimu".. Semoga muatan-muatannya selalu berisikan kebermanfaatan, peningkatan-peningkatan, dalam ibadah pada Sang Penggenggam Keputusan.. Estafet kebaikan itu akan terus bergulir dari tangan ke tangan, tiada putus hingga mencapai kemenangan..Allahumma Aamiin.. Terimakasih untuk Sauda...

'Terlanjur' ada: Di posting saja..

Berhentilah Sejenak, lalu Renungkanlah .. Oleh: Atika Maysa Hidup selalu menawarkan sisi gelap dan sisi terang. Ketika malam bertahta dengan angkuhnya, bermandikan bintang, ditemani anggunnya rembulan, mendekap ketakutan pada hati-hati yang tak terisi, seketika pagi datang menghempaskan kesombongan itu. Ia menawarkan hangat mentari, menciptakan pelangi setelah hujan. Di ujung langit sana, kita disuguhi hamparan biru putih gumul bergumul, membawa sejuta asa untuk kehidupan yang lebih hidup. Pada perjalanan yang sangat panjang ini, kau saksikan berjuta warna tragedi yang terjadi. Cucuran airmata kebahagiaan, tawa hampa si Kaya, sedu sedan kehilangan, senyum sekejap lelaki tua di sudut pasar, semua bercampur, menjelma menjadi cerita, kau katakan itu lah ‘kehidupan’. Setelah lelah berjalan, dalam pencarian tanpa kesan. Setelah letih menyesap asap kepahitan perjalanan, hendaklah engkau berhenti sejenak. Longgarkan sedikit dasi di lehermu. Duduklah dibawah rindang pohon, di h...

Bismillah..Kisah Benih Jagung yang Indah..

Siapa yang pernah menyangka, pilihan itu jatuh pada Ibu Faiza C Suwarno? Tidak pernah bertemu, apalagi kenalan. dan ternyata memang, "Rencana Allah itu lebih indah dari kisah yang direka manusia.." Ibu yang baik dan insyaallah mudah ditemui untuk konsultasi. Walaupun komoditasnya beberapa kali mengalami pergantian, mulai dari kemangi, pindah ke melon, dan sekarang setia di jagung (mudah-mudahan).  Ah, jagung, dulu saya sempat berfikir itu komoditas yang biasa saja, sudah banyak diteliti dan tidak menarik. Tapi setelah didalami, dihayati, diresapi (sedikit alay), ternyata jagung adalah bahan makanan favorit saya. Yaaa, apapun bentuknya, kalau dari jagung, saya suka. :) Mungkin inilah hikmahnya, kenapa tiba-tiba saya dipanggil oleh Bu Faiza, padahal hari itu adalah hari terakhir menjelang KKP. " Bagaimana kalau Atika ganti ke jagung aja? Benihnya bagus-bagus lhooo.." Rayu si Ibu ketika itu. Dengan gaya khas Ibu Faiza (kebayang), akhirnya saya luluh juga. (Ah, d...