Langsung ke konten utama

**Mengucapkan selamat atas perayaan agama lain

#Diambil dari postingannya TERE-LIYE di FB...
Saya akan sampaikan maksud dan tujuan ini dengan cerita saja. Seolah fiksi, tapi bentuk kongkretnya bahkan lebih cemerlang dibanding ini. Amat2 cemerlang malah, ketika akhlak yang sungguh baik, terpancar begitu indah dari seorang muslim, tanpa harus merusak akidah-nya. Karena sejatinya, saat seorang muslim memiliki akhlak tersebut, dia pasti akan membuat nyaman siapapun di sekitarnya.

Kita sebut saja Bambang. Orangnya biasa saja. Rajin shalat ke masjid, bergaul dengan tetangga, suka membantu, dan amat menyantuni fakir miskin serta anak yatim. Dia dikenal oleh banyak orang, satu kampung hafal dengan Pak Bambang ini. Terlebih kampung itu dihuni oleh warga heterogen. Beragam agama, banyak suku bangsa, kebiasaan, tumplek jadi satu.

Saat tetangga sebelah rumahnya, Pak Sihombing, asli Batak, hendak pergi ke gereja di suatu hari Minggu, mobil tetangganya ini malah mogok, tidak bisa dibawa, Pak Bambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya, "Silahkan dipakai." Tersenyum tulus. Toh, seharian minggu itu keluarga Pak Bambang hanya kumpul di rumah. Saat tetangga lain rumahnya kena musibah, kebakaran, Pak Bambang tidak perlu dua kali berpikir memberikan bantuan, membuka pintunya untuk menampung, padahak jelas-jelas tetangganya ini Hindu. Pak Bambang menyantuni anak-anak yatim piatu, tidak perlu bertanya ini agamanya apa. Bahkan saat sebuah kampung yg dekat dgn kampung mereka kena musibah, banjir bandang, meskipun sekampung itu Kristen, ada gereja yang rusak, Pak Bambang tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu mengirimkan sembako, dsbgnya.

Tapi seumur-umur, tetangganya tahu persis Pak Bambang tidak akan pernah mengucapkan 'selamat natal', 'selamat waisak', dan selamat lainnya kepada tetangganya yang berbeda agama. Tidak akan. Lah, tega sekali pak Bambang ini? Apakah dia ekstrem kanan hingga tidak mau hanya sekadar bilang kalimat itu? Maka tanyakanlah pada tetangganya yang berbeda agama. Tidak terbersit sekalipun mereka menganggap Pak Bambang ini ekstrem. Yang ada, jelas sekali Pak Bambang ini tetangga yang baik, nyaman, dan selalu menghormati mereka.

Kita tanyakan ke Pak Bambang kenapa dia tidak pernah bilang 'selamat natal'? Maka jawabannya sederhana: 'ada batas yang tidak bisa dilanggar dari akidah'. Jawaban simpel yang menjelaskan banyak hal. Itu benar, membantu tetangganya, meminjami mobil, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Membantu tetangga menumpang, menyantuni anak2 yatim piatu berbeda agama, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Termasuk membantu satu kampung yang seluruhnya Kristen, mengirimkan makanan karena mereka terkena musibah, itu bukan urusan akidah, melainkan SUNGGUH cerminan ahklak prima dari seorang muslim, dan diajarkan langsung oleh Nabi kita, tidak pandang bulu. Tapi mengucapkan kalimat 'selamat natal', menghadiri acara misa, natalan, dsbgnya, itu jelas ada hubungannya dengan akidah, keyakinan.

Tapi itu kan hanya sepotong kalimat saja? Dari sisi mana itu akan merusak akidah? Kenapa Pak Bambang serius sekali. Maka, duhai orang2 yang masih saja meributkan masalah ini, kalau itu hanya sepotong kalimat saja, kenapa pula kalian ribut? Itu hak mutlak dari Pak Bambang untuk bilang atau tidak, dan kalaupun dia tidak bilang, bukan berarti dia jahat, bukan berarti dia berbahaya, punya paham ekstrem. Lihatlah dengan mata kepala, toleransi yang dimiliki oleh Pak Bambang melebihi hanya sekadar kata2. Karena boleh jadi, orang2 yg ribut dengan kalimat ini, ya hanya ribut pada level kalimat saja. Pernah meminjamkan mobil ke tetangganya? Pernah memberikan rumah sbg tempat menumpang sementara bagi tetangga Hindu? Pernah tidak? Pak Bambang simply meyakini, dia takut kalau dia mengucapkan kalimat tersebut ke tetangganya, maka terbersit di hatinya sesuatu yang bisa merusak akidahnya. Tapi bukankah Pak Bambang bisa memastikan tidak bermaksud demikian? Tidak bermaksud ikut meyakini perayaan hari besar agama lain tsb? Itu benar, tapi demi kehati2an, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dan semua orang seharusnya menghormati pilihannya, bukan justeru berpasangka yang tidak-tidak.

Diskusi ini selalu berulang2 setiap tahun. Dan entah hingga kapan akan dipahami banyak orang. Saya pribadi, tidak akan bilang kalimat selamat natal, selamat hari raya agama ke teman2 pemeluk agama lain--karena eh karena, duh, sy saja yang muslim nggak pernah bilang selamat hari ulang tahun Nabi Muhammad, selamat tahun baru hijriyah, selamat isra' mi'raj, atau selamat2 lainnya ke banyak orang, sesama muslim. Saya tidak akan mengada-ada hal baru, dan tidak akan mengikut-ikut trend yg ada. Yang ada dan jelas ada saja saya keteteran menjalankannya. Tetapi secara pribadi, saya akan meneladani Pak Bambang. Toleransi, menghormati agama lain 'beyond' kata2, kalimat, dan itu lebih kongkret memunculkan rasa nyaman bagi siapapun.

Karena saya yakin, mengeluarkan akhlak prima sebagai seorang muslim, otomatis mengeluarkan toleransi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

*Saya minta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan pemahaman ini. Dan boleh jadi pendapat saya keliru. Saya sudah berusaha menuliskannya hati2. Nah, jika kalian membutuhkan pondasi yg lebih kokoh, silahkan merujuk pada penjelasan Buya Hamka soal ini, di search, di googling. Beliau adalah ahli tafsir, dan dalam banyak kesempatan, sy mendengarkan penjelasannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluarga Berencana, Merencanakan Keluarga???

  Waaaaahh, judulnyaaaa... Hahahha Abis terpancing nih sama bahasan Pak Dosen di matkul Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam...Berawal dari materi tentang Ibn Hizm yang menyatakan kalau kemiskinan muncul karena besarnya konsumsi di bandingkan pendapatan akibat tingginya laju pertumbuhan (migrasi dan kelahiran) serta gap yang besar antara si kaya dan si miskin dimana si kaya bisa menguasai struktur administratif dsb. Tanpa disangka-sangka, si Bapak bertanya, "Kalau ternyata, yang menyebabkan kemiskinan adalah begitu banyaknya kelahiran, apakah kalian setuju dengan program KB?" Tak ada yang menjawab, semua yang hadir seolah tampak berfikir. Hening. Bapaknya bertanya lagi, "Siapa yang setuju dengan program KB? Angkat tangan!" Malu-malu, aku angkat tangan, tapi tidak terlalu tinggi sehingga tidak kelihatan sama bapaknya. hehehehe "Baiklah, klo emang gak ada yang setuju, coba deh angkat tangan yang benar-benar menyatakan gak setuju dengan program K...

---Wanita-Wanita Cantik, Sahabatku---

e NURULITA SARI pertama kali bertemu, kesan nya :"ni orang kok ceria banget ya? jalannya selalu semagat, tebar senyum sana sini, say 'hi' kanan kiri.." kesini nya malah ketauan, lita tu suka galau juga. tapi punya cara sendiri untuk mengatasinya seperti menyendiri di kampus, lama-lama mandangin hujan atau dengerin musik. mafo nya adalah bakso n pisang bakar coklat. keterangan lebih lanjut, hubungi orang nya sendiri.. WIDA WARDATI HUMAIRO cewek yang suka warna ungu ini adalah cewek yang lembuuut banget. dulunya sih dia anak yang tomboy. hobi nya, ya yang berhubuungan dengan ketomboyan seperti manjat-manjat, lari-lari, main kelereng dll, tapi itu dulu.. sekarang ia menjelma jadi gadis sesuai dengan namnya, wardati humairo, mawar yang kemerah-merahan. CATUR PUTRI PANGESTIKA :    FIKRI MUKHLISINA LATIEF anak pinter satu ini, si calon dokter hewan adalah  sahabatku yang dewasa. meski begitu, ia tetap sama narsisnya dengan kami. pecinta korea juga...

Tangis Neng di Usia 20 Tahun

Malam ini, dibawah rinai hujan dilingkup langit pekat menumpahkan semua rasa yang kami belum pernah alami entah apa itu namanya ketika tangis itu pecah dibahuku ketika hati ku begitu sakit mendengarnya ketika penyesalan menuntut pembelaan "kenapa malah membuatnya menangis??" sungguh, tak ada maksud untuk membuatmu merasa bersalah katakan lah, aku iseng mengerjaimu anggaplah ini proses agar keakraban kita dapat dikenang hitunglah, rasa itu adalah kado termegah dalam perjalanan ini "bukankah air mata itu juga adalah tanda? meski ia jarang hadir menyapa kebersamaan kita bukankah air mata itu adalah kedamaian? yang menghadirkan peluk erat terikat membiarkan kita begitu larut , menyelami kesalahan memahami kekurangan. aku, ingin menangis lagi bersamamu, dalam ruang syahdu rindu" # besok si neng udah berkepala dua juga besok, dimulailah pertualangan kami menjalani hari dengan cerita yang mungkin tak lagi kekanak-kanakan..atau mungkin, umur t...