Langsung ke konten utama

Pengen nge-share aja... :)

Prolog Festival Bunga dan Buah Nusantara 2014


Pertanianku kini jatuh,
jatuh pada tangan-tangan pahlawan baru
Dengan semangat berpuluh-puluh ribu tenaga
meletakkan asa dalam genggaman sang surya

Pertanianku kini tiada,
tiada takut menantang gejolak dunia
Tiada enggan membusungkan dada, memamerkan buah-bunga-nya

Pertanianku kini terlempar.
Terlempar jauh menggaungkan suara
membangunkan naluri-naluri yang tersembunyi disini,
dihati pemudi-pemuda tani.

Pertanianku kini meminta bakti.
Bukti dimana satu ikrar itu diagungkan.
Hari terpanjatnya doa-doa kebesaran diatas kesadaran,
bahwa perut tetap harus diisi, air akan terus mengalir
revolusi orange ini akan bergulir
membersamai satu cinta
menciptakan asa kedigdayaan,
Buah - Bunga Nusantara.

…dan biarkan aku disini,
bersuara jauh lebih lantang dari kulik elang yang perkasa.
Bahwa,
Pertanianku telah MERDEKA!!

Karya:
Atika Mayang Sari
Mahasiswi Agronomi & Hortikultura IPB 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Salah dengan IPB? (versi tidak serius)

selasa siang, pukul 13.00 kuliah Ilmu Tanaman Pangan pun dimulai. bu Desta membuka laptopnya dan menjelaskan apa saja tanaman pangan di Indonesia. menarik? tentu saja, buktinya aku gak ngantuk atau mencoba untuk ngantuk. 15 menit. buku-buku mulai berayun konstan, menjadi kipas yang diharap memancarkan udara segar. ruangan yang lumayan besar ini memang penuh berisi orang. tentu saja, tiap-tiap mereka mengeluarkan panas tubuhnya. jadilah, suasana semakin panas. sebenarnya aku yang duduk nomor dua dari depan tidak terlalu merasa gerah, hanya saja, ketika bu Desta mulai angkat suara tentang kondisi ruangan, aku pun jadi ikut gelisah, merasa tak nyaman. 'tolong sebutkan dong, kekurangan apa yang kalian rasakan tentang IPB?' semula, teman-teman yang kurasa udah pada ketiduran spontan menjawab. ada yang bilang,'IPB jauh dari mana-mana bu', 'IPB bangunannya jelek', 'IPB itu kotor bu', 'di IPB susah dapat nilai bagus bu',' kuliah di IPB panas,...

Menjadi Emak Zaman Now

Beberapa waktu lalu, aku membaca status seorang teman. Dalam tulisannya, beliau menanyakan "Mengapa rasanya, menjadi ibu di zaman ini repot sekali, padahal orang tua beliau (dengan anak banyak) tidak pernah terlihat seriwet itu". Beberapa orang kemudian mengomentari status tersebut, mengemukakan beberapa alasan dan pendapat yang menarikku pada sebuah kesimpulan, "...karena zamannya berbeda". Di masa sekarang ini, di mana aku dan banyak perempuan lain bertumbuh, teknologi semakin memperkokoh perannya. Kran informasi dibuka lebar. Arusnya menggoyahkan kesadaran orang-orang untuk lebih tau. Pengetahuan senyatanya menjadi milik bersama. Hal itu lah yang menuntut ibu-ibu di zaman ini harus aktif dan belajar lebih, termasuk para perempuan luar biasa di Grup Shalihah Motherhood. Dalam percakapan seminggu ini, ada tiga topik yang menarik hatiku. Pertama, ketika Mba @seztifa membagikan info mengenai Berbagi Lokasi Melalui Maps. Hal ini mempermudah istri mengetahui lokasi ...

Jendela Kaca

Dari jendela kaca, bias embun menyapa pagi. Diantara petak-petak jendela kaca, mengintip sedikit sinar surya dalam helaian-helaian panjang. Pada terawang jendela kaca, aku nikmati senyummu disana, di ruang berbeda antara dua jendela kaca.