Langsung ke konten utama

- ditinggal Randy -

wah..wah..judulnya mencurigakan..hahhaha, lebay lagi...
gak lah...

untuk selengkapnya, dengarkan curhatku...

biasalah, masalah tahunan di awal smester di IPB..bikin galaaaauuu
rebutan KRS, susah loading, bingung ngatur jadwal dan masih banyak lagi, terutama masalah keuangan untuk ngenet...
tapi, mau gimana lagi?
karna dibalik itu semua, ada hiikmahnya kok. dengan kesulitan yang dihadapi bersama, mahasiswa-mahasiswa IPB jadi lebih kompak di dunia maya..saling sapa, berbagi cerita dan pengalaman masing2 dalam KRS-an.status-status penuh dengan tausiah untuk meningkatkan kesabaran..hmm, kayaknya moment-moment KRS-an, termasuk hal-hal yang akan dirindukan setelah selesai kuliah nanti. menjadi sepotong episod indah dari kampus rakyat ini.

oke, fokus ke judul. lho kok judul, bukannya fokus ke tema?

kemarin itu, aku termasuk yang gampang mengakses KRS, hanya butuh waktu 3 jam dan alhamdulillah, jadwalnya udah tersusun dengan rapi. dengan 24 sks yang ku ambil, sebenarnya aku agak gentar lantaran padatnya jadwal dan susahnya matkul yang akan aku hadapi di smester 4 ini. 21 sks dari departemen AGH dan interdeptnya, dan 3 sks dari minorku, ekonomi syariah.belum lagi tanggung jawab di organisasi. tapi, setelah menguatkan tekad dan istikharah juga. aku putuskan untuk menjalaninya. bismillahirrahmanirrahiiim..

jadi ceritanya nih, udah lega masalah jadwal. tinggal ongkang2 kaki, kuliah, ujian dan terima transkip. gitu sih rencanya..rencana yang gak banget.
tapi ternyata, tadi pagi, ketika ku OL lagi... chating sama randy, tersangka utama curhatan kali ini. randy bilang, dia gak ngambil minor di smester ini. so, apa hubungannya? apa masalahnya? gini, randy itu, teman dari departemen ku yang ngambil minor ekonomi syariah, kita cuma berdua. jadi selama smester 3 kemarin, aku udah ketergantungan ama dia. rasanya gimanaa gitu klo gak ada dia.. hahaha, lebay.
abisnya, gak enak banget kan klo kita di kelas orang, tapi gak ada teman sendiri. apalagi ntar klo aku gak tau ruangan, mau nanya siapa coba klo gak sama dia. ntar klo aku sakit (mudah2an gak) aku titip izin nya ama siapa? klo ada tugas kelompok, kan gak enak banget klo aku sekelompok ama teman yang gak dari departemen aku. iya sih tau, ini resiko ngambil sc atau minor. ini juga resiko klo gak bisa mandiri n gak PD.

sekarang, nasi udah jadi bubur. randy ga mau mengubah keputusannya. dia cuma ngambil 21 sks. aku juga gak bisa maksa. toh dia punya alasan tersendiri.
ya sudah lah, jalani minor di smester depan dengan percaya diri. sendiri dari departemen.
:'( saatnya belajar mandiri.

makasih ya randy yang galak...yang pelit jugaaa...hahaha


Komentar

  1. haha, semangat yah atikaa, banyak senyum dan tegur sapa aja biar bisa kenal sama anak2 eksyar. good luck :D

    BalasHapus
  2. hahaha, iya fi...tapi sekarang, ceritanya udah berubah lagi..randy jadinya ngambil eksyar..jadi ika ada teman...anak itu emang plin plan...hahahha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Salah dengan IPB? (versi tidak serius)

selasa siang, pukul 13.00 kuliah Ilmu Tanaman Pangan pun dimulai. bu Desta membuka laptopnya dan menjelaskan apa saja tanaman pangan di Indonesia. menarik? tentu saja, buktinya aku gak ngantuk atau mencoba untuk ngantuk. 15 menit. buku-buku mulai berayun konstan, menjadi kipas yang diharap memancarkan udara segar. ruangan yang lumayan besar ini memang penuh berisi orang. tentu saja, tiap-tiap mereka mengeluarkan panas tubuhnya. jadilah, suasana semakin panas. sebenarnya aku yang duduk nomor dua dari depan tidak terlalu merasa gerah, hanya saja, ketika bu Desta mulai angkat suara tentang kondisi ruangan, aku pun jadi ikut gelisah, merasa tak nyaman. 'tolong sebutkan dong, kekurangan apa yang kalian rasakan tentang IPB?' semula, teman-teman yang kurasa udah pada ketiduran spontan menjawab. ada yang bilang,'IPB jauh dari mana-mana bu', 'IPB bangunannya jelek', 'IPB itu kotor bu', 'di IPB susah dapat nilai bagus bu',' kuliah di IPB panas,...

Menjadi Emak Zaman Now

Beberapa waktu lalu, aku membaca status seorang teman. Dalam tulisannya, beliau menanyakan "Mengapa rasanya, menjadi ibu di zaman ini repot sekali, padahal orang tua beliau (dengan anak banyak) tidak pernah terlihat seriwet itu". Beberapa orang kemudian mengomentari status tersebut, mengemukakan beberapa alasan dan pendapat yang menarikku pada sebuah kesimpulan, "...karena zamannya berbeda". Di masa sekarang ini, di mana aku dan banyak perempuan lain bertumbuh, teknologi semakin memperkokoh perannya. Kran informasi dibuka lebar. Arusnya menggoyahkan kesadaran orang-orang untuk lebih tau. Pengetahuan senyatanya menjadi milik bersama. Hal itu lah yang menuntut ibu-ibu di zaman ini harus aktif dan belajar lebih, termasuk para perempuan luar biasa di Grup Shalihah Motherhood. Dalam percakapan seminggu ini, ada tiga topik yang menarik hatiku. Pertama, ketika Mba @seztifa membagikan info mengenai Berbagi Lokasi Melalui Maps. Hal ini mempermudah istri mengetahui lokasi ...

Jendela Kaca

Dari jendela kaca, bias embun menyapa pagi. Diantara petak-petak jendela kaca, mengintip sedikit sinar surya dalam helaian-helaian panjang. Pada terawang jendela kaca, aku nikmati senyummu disana, di ruang berbeda antara dua jendela kaca.